Skip to content

Digoda Sama Mamud Tetangga

Cerita Dewasa – Aku ingin menceritakan pengalaman tentang hubunganku sama anak tetanggaku, Rahma namanya umurnya 28 tahun, dia adalah ibu rumah tangga dengan 2 anak yang masih kecil, suaminya lebih tua dari dia, kerja dari suaminya adalah karyawan di perusahaan swasta di bandung, postur Rahma biasa saja seperti wanita IRT lainnya.

Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.
Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Herman yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal.
Rahma pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Herman dalam hati Rahma karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Rahma tentang cinta.
Suatu siang, Rahma sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Rahma langsung mengejar mereka.
Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Rahma terjatuh.
Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Rahma langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Akbar, anak tetangga depan rumah Rahma kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Rahma sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Akbar langsung lari ke arah Rahma.
“Kenapa tante?” tanya Akbar.
“Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Bar…” ujar Rahma sambil meringis.
“Bantu saya berdiri, Bar…” kata Rahma.
“Iya tante,” kata Akbar sambil memegang tangan Rahma dan dibimbingnya bediri.
“Bar, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya…” kata Rahma.
“Iya tante,” kata Akbar sambil segera menghampiri anak-anak Rahma.
Sementara Rahma segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Akbar mengantarkan anak-anak Rahma ke rumahnya, Rahma sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.
“Ada obat merah tidak, tante?” tanya Akbar.
“Ada di dalam, Bar,” kata Rahma.
“Kita ke dalam saja…” kata Rahma lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.
Akbar dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.
“Ma, Donny ngantuk,” kata anaknya kepada Rahma.
“Tunggu sebentar ya, Bar. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,” kata Rahma sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.
Setelah mengantar mereka tidur, Rahma kembali ke tengah rumah.
“Mana obat merahnya, tante?” tanya Akbar.
“Di atas sana, Bar…” kata Rahma sambil menunjuk kotak obat.
Akbar segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Akbar segera kembali dan mulai mengobati lutut Rahma.
“Maaf ya, tante.. Saya lancang,” kata Akbar.
“Tidak apa-apa kok, Bar. Tante senang ada yang menolong,” kata Rahma sambil tersenyum.
Akbar mulai memegang lutut Rahma dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.
“Aduh, perih…” kata Rahma sambil agak menggerakkan lututnya.
Secara bersamaan rok Rahma agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Akbar. Akbar terkesiap melihatnya. Tapi Akbar pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Rahma menggoda mata Akbar untuk melirik walau kadang-kadang.
Hati Akbar agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Rahma. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Rahma memakai celana pendek.
Akbar biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Rahma sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Rahma sangat jelas terlihat. Rahma sepertinya sadar kalau mata Akbar sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Rahma merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Akbarpun sepertinya terkesima dengan sikap Rahma tersebut. Akbar menjadi malu sendiri..
“Sudah saya berikan obat merah, tante…” kata Akbar.
“Iya, terima kasih,” kata Rahma sambil tersenyum.
“Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,” ujar Rahma lagi sambil tetap tersenyum.
Akbar, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Rahma. Masih duduk di bangku SMP kelas 3. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Akbar adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.
“Kenapa kamu nunduk terus, Bar?” tanya Rahma.
“Tidak apa-apa, tante…” ujar Akbar sambil sekilas menatap mata Rahma lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.
“Ayo, ada apa?” tanya Rahma lagi sambil tersenyum.
“Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja…” kata Akbar sambil tetap menunduk.
“Lihat apa?” tanya Rahma pura-pura tidak mengerti.
“Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,” kata Akbar sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Rahma tersenyum mendengarnya.
“Tidak apa-apa kok, Bar,” kata Rahma.
“Kan hanya melihat.. Bukan memegang,” kata Rahma lagi sambil tetap tersenyum.
“Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,” kata Rahma lagi sambil tetap tersenyum.
“Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,” kata Rahma.
“Benar tante tidak marah?” tanya Akbar sambil menatap Rahma.
Rahma menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Akbarpun jadi ikut tersenyum.
“Tante sangat cantik kalau tersenyum,” kata Akbar mulai berani.
“Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu…” kata Rahma.
“Saya berkata jujur loh, tante,” kata Akbar lagi.
“Kamu sudah makan, Bar?” tanya Rahma.
“Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,” kata Akbar.
“Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,” ajak Rahma.
“Baik tante, terima kasih,” kata Akbar.
Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Akbar menyentuk kaki Rahma. Akbar kaget, lalu segera menarik kakinya.
“Maaf tante, saya tidak sengaja,” kata Akbar.
“Tidak apa-apa kok, Bar…” kata Rahma sambil matanya nenatap Akbar dengan pandangan yang berbeda.
Ketika kaki Akbar menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati.
Rahma merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Rahma merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Akbar terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh.
“Kamu sudah punya pacar, Bar?” tanya Rahma sambil menatap Akbar.
“Belum tante,” kata Akbar sambil tersenyum.
“Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,” ujar Akbar lagi sambil tetap tersenyum. Rahmapun ikut tersenyum.
[Nonton Juga Film Dewasa disini ” Bioskop Semi “]
“Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?” tanya Rahma lagi.
“Keinginan apa tante?” tanya Akbar. Rahma tersenyum.
“Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara…” kata Rahma.
Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.
“Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?” tanya Rahma.
“Tidak ada, tante,” kata Akbar.
“Tadi tante mau tanya apa?” kata Akbar penasaran.
“Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?” tanya Rahma.
“Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,” kata Rahma lagi.
“Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?” kata Rahma lagi.
“Iya, tante,” kata Akbar.
“Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi…” kata Rahma sambil tersenyum.
“Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,” kata Akbar tanpa ragu.
“Maksudnya tubuh bagus apa,” tanya Rahma lagi. Akbar agak ragu untuk menjawab.
“Ayolah…” kata Rahma sambil memegang tangan Akbar. Tangan Akbar bergetar.. Rahma tersenyum.
“Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus…” kata Akbar dengan nafas tersendat.
“Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,” kata Rahma pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Akbar yang terus gemetar.
“Mm.. Lihat orang sedang begituan…” kata Akbar.
“Begituan apa?” tanya Rahma lagi.
“Ya, lihat orang sedang bersetubuh…” kata Akbar.
Rahma kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.
“Kamu suka tidak film begitu?” tanya Rahma.
“Iya suka, tante?” kata Akbar sambil menunduk.
“Mau coba seperti di film, tidak?” kata Rahma.
Akbar diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Rahma mendekatkan tubuhnya ke tubuh Akbar. Wajahnya di dekatkan ke wajah Akbar.
“Mau tidak?” tanya Rahma setengah berbisik.
Akbar tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Rahma membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Akbar. Akbar tetap diam dan makin gemetar.
Rahma terus menciumi wajah Akbar, lalu akhirnya dilumatnya bibir Akbar.. Lama-lama Akbarpun mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Rahma.
“Masukkan tangan kamu ke sini…” kata Rahma dengan nafas memburu sambil memegang tangan Akbar dan mengarahkannya ke dalam baju Rahma.
“Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Bar.. Pegang buah dada saya,” kata Rahma sambil tangannya meremas kontol Akbar dari luar celana.
Sementara tangan Akbar sudah masuk ke dalam BH Rahma dan mulai meremas-remas buah dada Rahma.
“Mmhh.. Terus sayang…” kata Rahma.
“Tangan saya pegal, tante…” kata Akbar polos.
“Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk…” ajak Rahma sambil menarik tangan Akbar. Sesampainya di dalam kamar..
“Buka pakaian kamu, Bar…” ujar Rahmapun melepas seluruh pakaiannya sendiri.
“Iya, tante…” kata Akbar.
Rahma setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Akbar terkesima melihat tubuh telanjang Rahma.
Seumur-umur Akbar, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. Kontol Akbar langsung tegang dan tegak..
“Naik sini, Bar…” kata Rahma.
“Iya, tante…” kata Akbar.
“Sini naik ke atas tubuh saya…” kata Rahma sambil mengangkangkan pahanya.
Akbar segera menaiki tubuh telanjang Rahma. Rahma langsung melumat bibir Akbar dan Akbarpun langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Akbar meremas buah dada Rahma yang tidak terlalu besar. Sementara kontol Akbar sesekali mengenai belahan memek Rahma.
“Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus…” desah Rahma sambil memegang tangan Akbar yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.
“Ohh.. Sshh…” kata Rahma. Akbarpun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Rahma.
“Bar, jilati memek ya, sayang…” pinta Rahma.
“Tapi saya tidak tahu caranya, tante,” kata Akbar polos.
“Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya…” kata Rahma setengah memaksa dengan menekan kepala Akbar ke arah memeknya.
Akbar langsung menuruti permintaan Rahma. Dijilatinya belahan memek Rahma sampai tubuh Rahma mengejang menahan nikmat.
“Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang…” desah Rahma sambil meremas kepala Akbar.
“Bar, kamu jilati bagian atas sini…” kata Rahma sambil jarinya mengelus kelentitnya.
Lalu lidah Akbar menjilati habis kelentit Rahma.. Rahma kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.
“Teruss.. Sshh.. Ohh…” desah Rahma sambil badannya semakin mengejang.
Pahanya rapat menjepit kepala Akbar. Sementara tangannya semakin menekan kepala Akbar ke memeknya. Tak lama..
“Ohh…” desah Rahma panjang. Rahma orgasme.
“Sudah, Bar.. Naik sini,” kata Rahma.
Akbar lalu menaiki tubuh Rahma. Rahma lalu mengelap mulut Akbar yang basah oleh cairan memeknya. Rahma tersenyum, lalu mengecup bibir Akbar.
“Mau tidak kontol kamu saya hisap,” kata Rahma.
“Mau tante,” kata Akbar bersemangat.
“Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu,” kata Rahma sambil tangannya meraih kontol Akbar yang tegang dan tegak.
Akbar lalu mengangkangi wajah Rahma. Rahma segera mengulum kontol Akbar. Tidak hanya itu, kontol Akbar lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Akbar tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.
“Ohh.. Tantee.. Enaakk…” jerit kecil Akbar sambil memompa kontolnya di mulut Rahma.
“Masukkin ke memek, sayang…” kata Rahma setelah dia beberapa lama menghisap kontol Akbar.
Akbar lalu mengangkangi Rahma. Sementara tangan Rahma memegang dan membimbing kontol Akbar ke lubang memeknya.
“Ayo tekan sedikit, sayang…” kata Rahma.
Akbar berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Rahma sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Akbar berhasil masuk dan mulai memompa memek Rahma. Akbar merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.
“Bagaimana rasanya, Bar?” tanya Rahma sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.
“Ohh.. Sangat enakk, tanttee…” kata Akbar tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Rahma.
Rahma tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Akbar mengejang. Gerakannya makin cepat. Rahma karena sudah mengerti langsung meremas pantat Akbar dan menekankannya ke memeknya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..
“Ohh.. Hohh…” desah Akbar. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Rahma.
“Udah keluar? Bagaimana rasanya?” tanya tante Rahma sambil memeluk Akbar.
“Sangat enak, tante…” kata Akbar.
Itulah pengalaman nyata dari Rahma yang saya paparkan sesuai dengan aslinya ditambah sedikit reka-reka sensual dari saya. Menurut Rahma, kejadian ini baru berjalan mulai 2 bulan yang lalu. Sampai saat ini mereka masih sering melakukan persetubuhan di rumah Rahma setiap ada kesempatan.
Menurutnya lagi, dalam satu hari/sepanjang siang, mereka biasanya bisa melakukan 2 kali persetubuhan, mungkin karena Akbar masih muda. Perlu dijelaskan bahwa menurut Rahma, cintanya pada Herman tidak pernah berubah.
Kejadian itu bermula tanpa ada niat dan keinginan. Terjadi begitu saja. Hanya saja menurut Rahma, ternyata cinta tidak selamanya membuat terikat pada sesuatu atau seseorang. Demikian.
CeritaBokep.ML - Cerita Seks Online, Cerita Dewasa, Cerita Panas Indonesia.